Webinar Disabilitas dan Kesehatan Mental

09.30-12.30 WIB, Rabu, 24 Februari 2021

Pemateri:

  • Dr. Didi Tarsidi (Dosen Pascasarjana UPI)
  • Ari Pratiwi, M.Psi, Psikolog (Dosen Psikologi UB)

Dalam perjalanan studi di tingkat perguruan tinggi, mahasiswa pasti akan melalui hambatan dan tantangan tersendiri. Tidak terkecuali bagi mahasiswa dengan disabilitas, dimana lingkungan yang belum sepenuhnya inklusif juga memberikan tantangan yang lebih berat jika dibandingkan dengan mahasiswa non disabilitas.

Permasalahan-permasalahan yang muncul di antara mahasiswa disabilitas ini mencakup permasalahan akademik maupun non-akademik. Contohnya, beberapa mahasiswa disabilitas mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan kebiasaan pembelajaran di perguruan tinggi yang lebih menuntut kemandirian dan tanggung jawab yang tinggi. Masalah-masalah ini menjadi lebih kompleks ketika individu tersebut tidak memiliki keterampilan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi. Selain itu, masalah internal seperti penerimaan diri, kepercayaan diri, resiliensi, motivasi dan atribut psikologis lain juga ikut berperan dalam tingkat kesulitan masalah yang dihadapi. Di sektor non akademik, permasalahan yang dihadapi masih berkisar antara masalah dengan keluarga, teman sebaya, pasangan atau bahkan masalah finansial.

Kesadaran mahasiswa dengan disabilitas untuk meminta bantuan dapat dikatakan cukup rendah. Berdasarkan data dari PSLD UB Divisi Konseling, sejak tahun 2019 – 2020, rata-rata hanya 10 orang saja yang mengakses layanan konseling di antara lebih dari 100 mahasiswa dengan disabilitas yang ada di Universitas Brawijaya. Sedangkan layanan konseling ini sudah ada sejak awal PSLD UB ini berdiri. Sejak 2020, Divisi konseling telah menginisiasi sebuah program untuk memonitoring progres perkuliahan mahasiswa, terutama yang sudah memasuki semester ⅞ bagi jenjang Sarjana, dan semester 6 bagi mahasiswa jenjang Diploma/Vokasi. Hasilnya, hampir sebagian besar bermasalah dengan skripsi dan tugas akhir mereka, bahkan sebagian kecil jenjang Sarjana sudah memasuki masa kritis (semester sudah diatas 12 semester). Dan mereka tidak pernah melaporkan hal ini kepada PSLD dan biasanya yang melaporkan adalah dari pihak jurusan atau dosen pembimbing mereka.

Selain kesadaran yang rendah untuk meminta bantuan kepada PSLD, fakta yang ditemukan oleh divisi konseling dalam penelitian terhadap beberapa kelompok mahasiswa ini menunjukkan jika mereka tidak mengetahui jika ada layanan konseling di PSLD.

Tidak kalah penting, pemahaman mahasiswa tentang kesehatan mental dan dampaknya terhadap perkuliahan mereka juga masih rendah. Banyak dari mahasiswa yang datang untuk melakukan konseling menunjukkan gejala-gejala stres, cemas, dan bahkan depresi. Sayangnya, dengan pemahaman yang rendah tersebut, mereka tidak dapat menemukan solusi yang tepat dan malah memperburuk keadaan. Misalnya, muncul symptom psikosomatis pada mahasiswa yang proposal skripsinya ditolak oleh pembimbing dan memintanya untuk mengulang dari awal. Mahasiswa ini akhirnya memilih untuk menghindari bertemu dengan pembimbing tersebut dan skripsinya malah terbengkalai.

Berdasarkan permasalahan di atas, Divisi Layanan PSLD UB ingin mensosialisasikan kepada mahasiswa disabilitas yang ada di Brawijaya tentang layanan konseling dan dampak kesehatan mental bagi mahasiswa jika menghadapi permasalahan.

Webinar ini merupakan kegiatan salah satu program kerja dari divisi layanan PSLD UB yang melibatkan 100 mahasiswa dengan disabilitas, baik yang berstatus aktif maupun non aktif. Kegiatan ini melibatkan 2 pemateri dari dalam dan luar Universitas Brawijaya. Kegiatan ini dilakukan pada akhir bulan Februari 2021 selama 1 hari mulai pukul 09.30-12.30. Dalam kegiatan ini, peserta akan diberikan pemahaman tentang konseling, peran konseling, jenis konseling, dampak kesehatan mental, dan prosedur mengakses layanan konseling di PSLD UB.