(Indonesia) Volunteer Baru Asah Bahasa Isyarat Dasar dengan Game

Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Kota Malang–Sebagai rangkaian dari pelatihan untuk calon volunteer Pusat Studi dan Layanan Disabilitas, Bahasa Isyarat Dasar wajib diikuti. Untuk memaksimalkan pelatihan, PSLD UB mengundang langsung mahasiswa Tuli untuk melatih calon volunteer yang berjumlah sekitar 80 orang. Dilaksanakan di Ruang Pertemuan Lt. 8 Rektorat Universitas Brawijaya hari ini, 5 Mei 2019, peserta pelatihan mendapatkan tiga sesi kegiatan dalam sehari untuk mematangkan dasar bahasa isyarat yang harus mereka kuasai sebelum pendampingan berlangsung.

Sesi pertama, Syahrina Khadiza, mahasiswi Vokasi, menyampaikan materi “Budaya Tuli” dan varian pembahasan yang mencakupnya, semisal bedanya dengan budaya dengar, kecenderungan penggunaan Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia) daripada SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia), dan lain sebagainya.

Diterjemahkan oleh Akmarina Khairunnisa, Syahrina mengisyaratkan bahwa memahami budaya Tuli merupakan pondasi penting bagi siapa saja yang berminat pada kajian dan layanan disabilitas. “Jadi begitu ya, budaya Tuli berbeda dengan budaya dengar. Kami punya kebutuhan dan cara berkomunikasi sendiri di lingkungan yang selama ini masih menganggap bahwa semua orang dapat mendengar,” isyarat Rina, panggilan akrab Syahrina Khadiza.

Diasah dengan Perkenalan dan Game
Krishna Sekar Larasati, mahasiswi Tuli Jurusan Agroekoeknologi Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, melanjutkan sesi kedua yang berisi praktik dasar dalam bahasa isyarat. Nana, begitu ia dikenal, menyampaikan mulai dari bahasa isyarat abjad, status personal, cara memperkenalkan diri, dan lainnya.

Di beberapa kesempatan, ketika praktik memperkenalkan diri berlangsung, peserta tampak sangat antusias menyebutkan nama, asal fakultas, dan asal daerah mereka. Nama fakultas di UB dan daerah di Indonesia sudah ada bahasa isyaratnya masing-masing, kecuali beberapa daerah dan kabupaten yang sampai saat ini belum populer penggunaan bahasa isyaratnya.

Di sesi terakhir, dipandu oleh Ahmad Faiq dan Yanda Sinaga, memainkan permainan “Menyampaikan Isyarat”. Game ini menarik perhatian peserta karena Faiq membawakannya dengan ekspresi yang mengundang peserta tertawa karena lucu. Dalam isyaratnya, diterjemahkan oleh Yanda, Faiq terus mengingatkan peserta untuk memaksimalkan penggunaan mimik muka di samping isyarat tangan, “Ekspresi dengan bahasa tubuh dan mimik muka itu penting dalam bahasa isyarat,” demikian Faiq mengingatkan berulang kali.