(Indonesia) DisabiliTea Aktif Kembali, Diskusi ‘Kekerasan Perempuan’ Mengawali

Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Pusat Studi dan Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya (PSLD UB) kembali mengaktifkan diskusi rutin yang sempat dimulai sejak 2013 lalu. Pada Rabu, 28 Agustus 2019, DisabiliTea, begitu pengurus PSLD UB menamai kegiatan ini, langsung dimulai kembali di 2019 ini dengan tema mengenai kekerasa terhadap perempuan di Jawa Timur. Diskusi tersebut diisi oleh Yuyun Riani, pengurus PSLD UB yang juga merupakan dosen di Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB).

Yuyun Riani, yang tahun ini juga akan segera berangkat untuk melanjutkan jenjang pendidikan doktoral di Taiwan, memantik diskusi berdasarkan riset yang pernah ia lakukan terhadap beberapa organisasi perempuan dengan disabilitas. Ia menyampaikan bahwa kekerasan terhadap perempuan dengan disabilitas bisa berupa verbal dan non-verbal.

“Kadang kita bahkan tidak menyadari bahwa tindakan seseorang terhadap kita yang perempuan adalah kekerasan,” Begitu Yuyun menekankan. “Kenapa itu terjadi? Karena korbannya pun tidak sadar bahwa itu termasuk dalam kategori kekerasan,” lanjutnya sembari memberi contoh berupa pernyataan, olokan, dan lainnya.

Bagi Yuyun, sikap permisif terhadap ungkapan yang sebenarnya termasuk kekerasan memiliki akar yang kuat di masyarakat Jawa Timur, khususnya, termasuk terhadap perempuan dengan disabilitas. Sikap permisif itu terjadi karena perempuan di banyak wilayah masih dianggap sebagai masyarakat kelas dua. “Hal ini menjadi semakin parah jika korbannya adalah perempuan difabel,” Tegas Yuyun memaparkan hasil-hasil penelitiannya.

Ajakan untuk Peduli

Dengan mendasarkan paparannya pada hasil penelitiannya itu, Yuyun mengajak peserta diskusi untuk memulai mengidentifikasi kekerasan yang selama ini tidak disadari. Menurutnya, sensitivitas tersebut mempermudah kita memahami arti penting dari martabat kemanusiaan.

“Kepedulian itu sedikit banyak akan membuat kita semakin paham apa yang harus kita lakukan ketika ada kekerasan,” ucap Yuyun. “Jadi mari kita peduli dan sensitif dengan kekerasan yang selama ini mungkin saja tidak kita sadari,” Imbaunya.