Raja Brawijaya Kenalkan Panitia pada Disability Awareness

Kota Malang–Panitia Raja Brawijaya mengajak Pusat Studi dan Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya untuk memfasilitas panitia bagian pendampingan dan kesehatan dalam pelatihan disability awareness, Minggu, 29 Juli 2018. Raja Brawijaya merupakan nama dari kepanitiaan orientasi mahasiswa baru UB tahun 2018 ini. Sejak berbulan-berbulan yang lalu, panitia Raja Brawijaya memang sedang mematangkan konsep dan pelaksaan ospek. Disability awareness merupakan bagian penting dari kematangan itu.

Alies Poetri Lintangsari, koordinator bagian pelayanan di PSLD UB, memberikan pengantar materi disability awareness pada 65 panitia yang hadir di Gazebo Fakultas Kedokteran UB. Selain membeirkan penjelasan terkait disability awareness, ia memperkenalkan satu per satu orang dari PSLD UB yang akan turut memfasilitasi.

“Disability awareness ini akan berguna tidak hanya ketika ospek saja, tapi juga nanti dan selanjutnya,” tegas Lintang dalam pengantarnya.

“Demi memudahkan dan memperlancar jalannya latihan, kita akan bagi menjadi beberapa kelompok dengan tiga pos yang akan bergantian didatangi oleh masing-masing kelompok, yaitu pos Tuli, pos daksa, dan pos tunet,” demikian Lintang menjelaskan.

Di areal Gazebo FK UB yang luas itu, panitia Raja Brawijaya penuh dan hilir mudik dari satu pos ke pos lainnya secara berkelompok. Fasilitator dari PSLD UB sibuk menjelaskan dan mempraktikkan berbagai tata cara membantu penyandang disabilitas yang nantinya akan berguna untuk memfasilitasi mahasiswa baru di Universitas Brawijaya dan di waktu yang lain.

Di tempat terpisah, Dendy Arifianto, penyandang disabilitas netra alumni Fakultas Hukum UB menjelaskan cara-cara membantu dan memfasilitasi penyandang disabilitas netra. “Tempat ini gelap ya?” canda Dendy untuk memulai penjelasannya. “Oh iya, saya kan tidak bisa melihat,” lanjutnya. Peserta pelatihan pun tertawa karena melihat Dendy tidak sedingin kelihatannya.

Di pos yang lain, pos Tuli dan pos daksa, fasilitator silih berganti mempraktikkan cara memfasilitasi penyandang disabilitas, seperti cara menaikkan kursi roda, cara berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat dasar, dan beberapa praktik lainnya yang membuat peserta tampak sangat antusias.

“Ketahui dengan betul di mana fasilitas perguruan tinggi ini yang dapat memudahkan kita semua. Jadi kesadaran ruang dan orientasi mobilitas kita amat penting, mengingat di mana yang berundak dan yang tidak,” ucap salah satu fasilitator di depan peserta di pos daksa.

Di pos Tuli, Yanda Sinaga beserta partner fasilitatornya yang lain, memberikan penjelasan dengan telaten tentang cara berkomunikasi dasar menggunakan bahasa isyarat. “Intinya untuk menangkap pemahaman dan memberikan pengertian,” kata Yanda. Ia juga melatih peserta berkomunikasi satu sama lain dan tebak lagu dengan bahasa isyarat.

Secara terpisah, Koordinator Humas Raja Brawijaya Getsa Ane Widyaputri mengatakan, “Kita kan menuju kampus yang inklusif, jadi sikap inklusif itu harus dimulai sejak dini. Mahasiswa baru harus diperlihatkan dan dibiasakan dengan kondisi ini. Selain itu, ini merupakan kewajiban mengingat setiap tahun UB menerima mahasiswa penyandang disabilitas,” tegasnya menjelaskan.

Menjelang asar, pelatihan berakhir setelah semua pos terlalui oleh masing-masing peserta pelatihan.