Menu Close

Selenggarakan Workshop Internasional, PSLD UB Ajak Perguruan Tinggi Aplikasikan Pendidikan Inklusif

Berbicara tentang Hak Asasi Penyandang Disabilitas (PD) sedikit banyaknya tentu tidak terlepas kaitannya dengan konsep Hak Asasi Manusia (HAM ) pada umumnya. Sebab ketika dunia mencoba merumuskan format Hak Asasi Penyandang Disabilitas, maka seluruh upaya ke arah itu selalu bermuara pada postulat equal justice underlaw, equal oportunity for all. Maka dari itu Majelis Umum PBB  mulai mengadopsi deklarasi penyandang disabilitas pada tahun 1975 serta disusul dengan lahirnya sejumlah instrumen yang bersifat spesifik tentang pengakuan dan perlindungan hak penyandang disabilitas. Namun memasuki abad ke 21, gerakan universalisme hak penyandang disabilitas terus menguat yang ditandai dengan lahirnya Konvensi tentang hak penyandang disabilitas No 61/106, 13 Desember 2012. Tentunya hal ini pula yang menjadi wacana bagi semua institusi pendidikan di berbagai negara agar mereka tidak membeda-bedakan atau mengkhususkan hak-hak penyandang disabilitas untuk mendapatkan pendidikan yang sama dengan masyarakat pada umumnya.

Dengan latar belakang itulah, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (DIKTI) bersama Universitas Brawijaya (UB) yang menjadi (salah satu) pelopor pendidikan inklusif, menggelar internasional workshop yang bertemakan “Toward Inclusive Education for Universitas in Indonesia“. Acara yang berlangsung 2 hari (10-11/11) tersebut mengambil tempat di ruang pertemuan serta convention hall, Hotel Savana, Malang. Kegiatan ini juga banyak dihadiri oleh berbagai macam institusi, komunitas serta elemen masyarakat yang sangat concern terhadap dunia pendidikan khususnya bagi penyandang disabilitas.

Hadir sebagai pemateri, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Dr Ir. Illah Saillah, MS dari DIKTI, Didi Tarsidi PhD (Pertuni Pusat), Dr. Syarifuddin Daming (Komnas HAM) dan Sharon Kerr selaku perwakilan dari Macquarie University Australia. Tak ketinggalan pula para tamu undangan perwakilan/delegasi PTN dan PTS seluruh Indonesia yang juga turut serta dalam kegiatan workshop tersebut .

Ketua Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) UB, Prof. Dr. Ir. Sudjito mengungkapkan bahwa kegiatan ini tidak hanya sekedar berbagai pengalaman atau mensosialisasikan pendidikan inklusif kepada institusi pendidikan semata. Namun banyak nilai-nilai lebih yang dapat dipetik dari kegiatan tersebut. “Kita tahu dan tidak memungkiri bahwa saat ini perhatian kepada mereka (penyandang disabilitas) sangatlah kurang, mereka dianggap sebagai beban sosial bagi masyarakat karena keterbatasan yang mereka miliki. Apalagi akses menuju dunia pendidikan, mereka juga mengalami kesulitan untuk mendapatkan hak-hak yang sama dengan masyarakat yang bukan penyandang disabilitas. Padahal tidak sedikit dari mereka memiliki pengembangan potensi yang cukup besar dan bisa menjadi sumbangsih yang bermanfaat bagi lingkungan masyarakat terlebih kepada negara,” ujarnya.

Di Indonesia sendiri, 10 persen dari penduduknya terdapat masyarakat yang menjadi penyandang disabilitas. Dan dari 10 persen tersebut, sebanyak 59.8 persen tidak mampu mengenyam dunia pendidikan, 42 persen hanya duduk di bangku sekolah dasar, sedangkan 0,9 persen saja yang berhasil meraih pendidikan di perguruan tinggi. Hal inilah yang menjadi bahasan penting bagi seluruh universitas di Indonesia untuk mulai berperan aktif untuk mempelajari, memahami dan mengaplikasikan pendidikan inklusif di masing-masing perguruan tinggi.

Dalam acara tersebut, Herliny Meuthia Ranthy, salah satu mahasiswi penyandang disabilitas FISIP UB, berkesempatan untuk memberikan testimoni kepada para audience. Ia mengungkapkan kegembiraannya kepada UB yang telah memberinya banyak dukungan dan kesempatan untuk meraih pendidikan di perguruan tinggi. “Saya sangat berterima kasih kepada PSLD UB yang telah banyak memberikan harapan kepada saya dan teman-teman difabel untuk menempuh perkuliahan. PSLD merupakan sebuah cahaya baru bagi kami, mereka (para pendamping), teman-teman, juga para dosen sangat medukung dan bertoleransi tinggi terhadap kami. Walaupun dilain pihak masih ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti fasilitas, saya percaya UB akan memberikan yang terbaik dalam mengembangkan pendidikan inklusif,” pungkasnya.

Bersamaan dengan workshop internasional “Toward Inclusive Education for Universitas in Indonesia“, Atase Pendidikan Australia, Marie Gleary bersama perwakilan Macquarie University, Sharon Kerr menyempatkan waktunya untuk meninjau langsung fasilitas belajar bagi penyandang disabilitas yang berada di Universitas Brawijaya (UB). Didampingi oleh Prof. Dr. Ir. Yogi Sugito selaku Rektor UB beserta Prof. Dr. Ir. Ifar Subagiyo dan Prof. Dr. Ir. Loekito Adi Soehono dari International Office, UB (IO UB), mereka melakukan survei ke seluruh ruangan yang berada di dalam gedung Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD). [zink]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Page Reader Press Enter to Read Page Content Out Loud Press Enter to Pause or Restart Reading Page Content Out Loud Press Enter to Stop Reading Page Content Out Loud Screen Reader Support