Salah Logika Berfikir, Penyandang Disabilitas Terpinggir

Dalam ruang yang gelap gulita, orang tunanetra masih bisa membaca (huruf braille), sedang orang yang bukan tunanetra (pasti) tidak bisa membaca. Lalu, siapa dari dua orang tersebut yang (pantas) disebut normal dan abnormal? Faktanya, dan itu patut untuk disayangkan; logika berfikir masyarakat (masih) tetap saja menempatkan orang tunanetra –dan penyandang disabilitas yang lain- sebagai kelompok yang abnormal.
Dan logika seperti itu malah menjadi dasar kebijakan nasional dalam memperlakukan penyandang disabilitas. Termasuk dalam kebijakan layanan pendidikan. Sebab sudah terlanjur dianggap abnormal, maka layanan untuk mereka pun harus bersifat khusus. Ditegaskan oleh Slamet Thohari, Sekretaris Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) Universitas Brawijaya, hal ini berarti penyandang disabilitas dimasukkan dalam kelompok yang tidak bisa sama atau berbeda dengan orang lain yang ‘normal’.
Padahal setiap orang, baik normal maupun abnormal, memiliki kemampuan yang berbeda. Dengan pendekatan tertentu, sistem tertentu, dan alat bantu tertentu, seharusnya layanan pendidikan bagi penyandang disabilitas tidak perlu sampai diskriminatif dan terpinggir. Berikut penuturan Slamet yang juga difabel ini kepada Mas Bukhin dan fotografer Rakmat Basuki dari KORAN PENDIDIKAN.

Anda pernah aktif dalam gerakan anti diskriminasi, terutama pada penyandang disabilitas. Sebenarnya yang menjadi ide dasar dari yang Anda perjuangkan itu seperti apa?
Ya sebuah kenyataan saja bahwa penyandang disabilitas di Indonesia itu careless (kurang perhatian) dalam segala bidang. Anda bisa melihat sendiri bagaimana kebijakan nasional kita hingga fasilitas umum, kurang memberi daya jangkau (aksesbilitas) bagi mereka. Sikap seperti ini bukan muncul tiba-tiba namun sudah menjadi desain nasional. Itu tampak dari bagaimana logika berfikir kita menempatkan penyandang disabilitas itu sebagai orang abnormal.

Seberapa jauh dampak dari sekadar kesalahan logika berfikir itu?
Sangat besar. Karena penyandang disabilitas dianggap abnormal, dalam arti berbeda dengan orang yang normal, maka layanan untuk mereka pun dibedakan. Coba saja lihat pada layanan pendidikan kita, penyandang disabilitas itu pilihannya, ya di-SLB-kan (Sekolah Luar Biasa), sesuai dengan ketunaannya. Bayangkan, untuk bisa sekolah pun, mereka harus dikelompokkan dengan orang yang sama-sama abnormal. Sudah begitu tidak didukung dengan aksesbilitas pada fasilitas publik, itu kan membuat mereka makin tersingkir.

Apa salahnya dengan frasa Anda soal penyandang disabilitas yang di-SLB-kan itu?
Saya pun bisa tanya balik, kenapa penyandang disabilitas harus dibedakan layanan pendidikannya? Mereka dianggap berbeda? Ya setiap orang memang berbeda. Sesama orang yang dianggap normal sekalipun, ya punya kemampuan berbeda. Lalu kenapa perlakuan layanan pendidikan untuk penyandang disabilitas harus dibedakan? Apa gara-gara mereka berbeda secara fisik? Sementara orang normal yang berbeda kemampuan itu tidak tampak abnormal? Lagi-lagi ini kan logika berfikir yang salah.

Tapi riil kan kalau memang penyandang disabilitas itu berbeda dan butuh layanan khusus?
Mari kita fikirkan kondisi berikut. Ada dua orang; satu orang normal dan satunya tunanetra. Masukkan mereka dalam ruang yang gelap gulita. Orang yang tunanetra masih bisa membaca dengan huruf-huruf braille yang ada dibukunya. Sementara orang yang normal, pasti tidak bisa membaca dalam kegelapan tersebut. Dari contoh kondisi itu, mana sebenarnya orang yang normal? Dan mana yang abnormal? Bukannya orang normal yang tidak bisa membaca dalam kegelapan itu bisa disebut abnormal oleh mereka yang tunanetra. Ini sekaligus menunjukkan bahwa setiap orang itu memiliki perbedaan kemampuan. Ada yang berbeda dalam kemampuan daya tangkap, berbeda daya ingat, hingga berbeda bentuk fisik.

Yang ingin Anda garis bawahi bahwa penyandang disabilitas pun bisa memiliki kemampuan yang sama dengan orang normal?
Tepat. Pendekatan yang benar, ditopang sistem yang menunjang, dan alat yang sesuai, seharusnya tidak perlu ada logika normal dan abnormal itu. Soal kemampuan, sudah banyak kok contoh-contoh orang dengan disabilitas tertentu memiliki kemampuan yang jauh melebihi orang normal. Mau menyebut satu? Stephen Hawking misalnya. Itu tidak bisa dibantah lagi.

Bagaimana penjelasan sistem dan alat yang menunjang itu sehingga orang abnormal akan merasa dirinya tidaklah abnormal tapi sama dengan mereka yang normal?
Dari contoh yang saya sebut tadi, orang normal untuk bisa membaca, dia butuh alat namanya cahaya. Sedang orang tunanetra juga bisa membaca dengan bantuan alat berupa huruf timbul. Begitu juga dengan ketunaan yang lain, ada banyak alat yang sekarang ini makin berkembang, yang membuat mereka bisa sama normalnya dengan orang lain. Kondisi ini akan lebih kondusif bila didukung dengan sistem yang menunjang, yakni sistem yang ramah pada penyandang disabilitas.

Seperti apa itu?
Lihat misalnya di Malang ini, adakah alat transportasi umum yang memungkinkan penyandang disabilitas bisa memanfaatkannya secara mandiri? Belum ada kan? Jadinya mereka tidak bisa bermobilisasi layaknya orang normal. Kalau pun terpaksa harus memanfaatkan fasilitas umum itu, kesan yang muncul, ya dikasihani oleh orang lain atau dibantu oleh orang lain. Saya tahu persis bedanya sistem yang menunjang itu sebab saya sendiri seorang difabel. Kaki kanan saya terkena folio sejak usia dua tahun.

Seberapa besar perbedaan sistem yang Anda rasakan itu, saat Anda ingin mendapat hak pelayanan Anda dari negara?
Waktu kuliah di UGM, dengan kursi roda membuat mobilitas saya menjadi sangat terbatas. Untuk bisa pergi kemana-mana, selalu mengharap ada teman yang mau membonceng atau bisa memberi tumpangan. Jadinya, lebih malas dan lebih menutup diri. Hal yang berbeda saya rasakan waktu bisa kuliah di University of Hawaii. Semua hal bisa saya lakukan dengan nyaman dan aman, sebab sistem yang ada memang menunjang. Saya bisa pergi sendiri menelusiri jalanan di sana walau dengan kursi roda, sebab jalurnya memang disediakan. Saya juga bisa bepergian ke tempat yang lebih jauh sebab transportasi umum memang menyediakan tempat khusus.
Tahun ini, Universitas Brawijaya membuka layanan bagi penyandang disabilitas. Dan Anda aktif di dalamnya. Seperti apa gambaran dari layanan ini nantinya?
Ya kurang lebih sama, bahwa pendidikan tinggi harus ramah bagi mereka. Penyandang disabilitas bisa memilih program studi yang diminati, dan kita yang sediakan alatnya. Harapan besarnya, dengan komitmen seperti ini, maka setiap kebijakan yang nantinya diambil dalam rangka pengembangan kampus, tetap memberi perhatian pada mereka. Kalau sedang membangun gedung, ya harus diperhatikan fasilitas buat mereka. Harapan lebih besarnya lagi, semoga bisa memotivasi kampus-kampus yang lain untuk juga ramah bagi penyandang disabilitas

Sumber: http://www.koranpendidikan.com/view/1297/salah-logika-berfikir-penyandang-disabilitas-terpinggir.html