Hadapi SMPD Mendatang, PSLD Pastikan Jurusan Penerima

Kota Malang—Pada Kamis, 31 Oktober 2019, PSLD UB mengundang perwakilan semua program studi, jurusan, dan fakultas di Universitas Brawijaya dalam kegiatan Workshop Pemetaan Layanan bagi Mahasiswa Penyandang Disabilitas. Kegiatan ini bertujuan untuk mengkomunikasikan ulang komitmen UB sebagai kampus inklusif. Dimulai dengan deskripsi mengenai fakta-fakta yang berkembang di UB selama beberapa tahun terakhir terkait mahasiswa dengan disabilitas, kewajiban untuk menerima mahasiswa penyandang disabilitas berdasarkan undang-undang, dan lain sebagainya.

Masing-masing program studi, jurusan, dan fakultas di Universitas Brawijaya diundang untuk mengirimkan perwakilan. Setelah memberi masukan mengenai ragam disabilitas secara umum dan khusus, PSLD membagikan lembaran yang memuat beberapa hal menyangkut pertanyaan, tanggapan, dan ragam disabilitas apa saja yang diterima di jurusan tersebut.

View this post on Instagram

Dengan mengundang perwakilan semua program studi, jurusan, dan fakultas di Universitas Brawijaya, PSLD merencanakan agar layanan pada mahasiswa dengan disabilitas dapat lebih terintegrasi. Pelibatan pengelola jurusan sangat penting untuk mengetahui sejauh mana kesiapan layanan yang disediakan di UB kepada mahasiswa difabel. Wakil Rektor Bidang Akademik Ibu Prof. Dr. drh. Aulanni’am, DES., hadir menyampaikan kata pengantar mengenai layanan pada mahasiswa dengan disabilitas tersebut. Ia menyampaikan bahwa layanan pada mahasiswa difabel adalah amanah undang-undang. "Itu kewajiban," tegasnya. #Aksesibilitas #Accessibility #Inklusi #Inclusion #CRPD #Disability #Disabilitas #PwD #Difabel #DifabelIndonesia #PendidikanInklusif #InclusiveEducation #PendidikanUntukSemua #EducationForAll #UniversitasBrawijaya #UB #TemanUB

A post shared by PSLD UB (@psld_ub) on

Wakil Rektor Bidang Akademik Ibu Prof. Dr. drh. Aulanni’am, DES., hadir menyampaikan kata pengantar mengenai layanan pada mahasiswa dengan disabilitas tersebut. Ia menyampaikan bahwa layanan pada mahasiswa difabel adalah amanah undang-undang. “Itu kewajiban,” tegasnya.

Setelah sesi pengantar dari Wakil Rektor Bidang Akademik, PSLD menjelaskan isu disabilitas terkini secara umum di Indonesia dan konteks lokal Universitas Brawijaya. Pelayanan yang telah berlangsung sejak 2012, bersamaan dengan berdirinya PSLD, turut dijelaskan ke peserta workshop.

“Jadi selama ini pelayanan yang kami berikan sudah menyangkut mayoritas ragam disabilitas yang ada,” tegas Unita Werdi Rahajeng, Kepala Bidang Riset dan Pengembangan PSLD UB yang juga dosen Psikologi UB.

Di sesi berikutnya, ada pula penjelasan mengenai kebutuhan mahasiswa dengan disabilitas. Dalam hal ini, mahasiswa dengan disabilitas netra, Tuli, dan daksa hadir menyampaikan pandangan dan pengalaman mereka selama kegiatan akademik di Universitas Brawijaya.

“Jadi banyak cara yang dapat kami lakukan untuk belajar. Kami menggunakan screen reader untuk membaca,” kata I Made Wikandana, mahasiswa Hubungan Internasional FISIP UB. Wahyu Nur Rohman, mahasiswa Fakultas Hukum UB, menambahkan, “Saya mencatat menggunakan alat ini. Efektik!” tegas Wahyu sambil memberi contoh alat yang ia gunakan untuk menulis sebagai penyandang disabilitas netra.

Elo Kusuma, mahasiswa Desain Komunikasi Visual UB, juga memberikan penjelasan mengenai kebutuhan-kebutuhannya. Begitu pula perwakilan mahasiswa Tuli, Muhammad Fathi Khalidi, yang kini sedang menjalani semester 7 di Jurusan Arsitektur UB, mengatakan, “Kami bisa membaca, untuk belajar di kelas memang membutuhkan penerjemah bahasa isyarat yang juga mahasiswa. PSLD menyediakan sebagai volunteer,” isyaratnya sebagaimana diterjemahkan Yanda Maria Elsera Sinaga.

PSLD merencanakan agar layanan pada mahasiswa dengan disabilitas dapat lebih terintegrasi. Pelibatan pengelola jurusan sangat penting untuk mengetahui sejauh mana kesiapan layanan yang disediakan di UB kepada mahasiswa difabel (MHN).