Calon Volunteer Ikuti Disability Awareness Sebelum Bertugas

Kegiatan Berita

Kota Malang—Sejak pembukaan rekrutmen pendamping atau volunteer untuk mahasiswa dengan disabilitas pada November 2018 lalu, calon volunteer sangat antusias menjalani pendampingan. Seperti pada proses rekrutmen sebelumnya, tentu mereka juga memiliki kewajiban untuk mengikuti pelatihan Disability Awareness terlebih dahulu sebelum mendapatkan pembagian jadwal pendampingan. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 2 Februari 2019, di Lantai 10 Gedung Layanan Bersama Universitas Brawijaya.

Antusiasme peserta terlihat dalam proses pelatihan. Dari keseluruhan pendaftar, hamper 80 persen hadir di kegiatan pelatihan ini. Untuk itu PSLD UB mensiasatinya dengan cara mencarikan ruangan yang memadai untuk menampung peserta. Meskipun pelatihan berlangsung sehari penuh sejak pagi, peserta berdatangan dan bertahan di ruangan hingga kegiatan usai.

Kegiatan dibuka oleh Alies Poetri Lintangsari, Koordinator Divisi Pendampingan PSLD UB. Selain membuka kegiatan, Lintang, sebagai mana ia akrab dikenal, juga menyampaikan hal-hal mendasar terkait pendampingan terhadap mahasiswa dengan disabilitas. Ia menekankan pentingnya memiliki pandangan yang berbeda terhadap isu disabilitas.

“Jadi ada yang dikenal dengan Social Model of Disability. Ini cara pandang yang bergeser dari sekedar melihat penyandang disabilitas sebagai masalah. Cara pandang ini yang kemudian akan kita gunakan terus menerus nantinya,” ucap Lintang dalam pemaparannya.

Simulasi Pendampingan

Usai penyampaian tentang dasar-dasar Disability Awareness, peserta mendapatkan simulasi pendampingan. Simulasi ini dibagi ke dalam empat kelompok sesuai pertimbangan kebutuhan akomodasinya, yaitu pos Tuli, pos daksa, pos mental, dan pos netra. Peserta yang berjumlah hingga 73 orang pun dibagi ke dalam empat kelompok untuk menjalani masing-masing pos.

Di masing-masing pos telah ada yang bertugas menyampaikan secara spesifik terkait ragam disabilitas yang ada di Universitas Brawijaya. Peserta yang telah dibagi menjadi empat kelompok bergiliran ke pos yang lain.

Di pos Tuli, peserta diperkenalkan dengan dasar-dasar Bahasa Isyarat untuk berkomunikasi dengan penyandang disabilitas Tuli. Begitu pula di pos yang lain, sehingga peserta dapat memahami kebutuhan, akomodasi, dan cara-cara pendampingan.

Yanda Sinaga, fasilitator di pos Tuli, tampak sigap memberikan game berupa cara berkomunikasi dengan Bahasa Isyarat kepada peserta. “Ekspresi juga penting di sini, selain kita juga mengetahui apa isyarat untuk menyampaikan makna tertentu,” kata Yanda menegaskan.

Di pos netra, Rachmawati Ayu Kuswoyo mentatar peserta dengan praktik menuntun dan mendampingi penyandang disabilitas netra. Ia membawa tongkat dan penutup mata dan peserta bergiliran menjadi tunanetra dan pendampingnya sekaligus. “Ada lagi, sapaan harus jelas. Dengan begitu penyandang disabilitas netra dapat mengenali kita,” ucap Rachma. (mhl)

Avatar
Mahalli
Studying Economic Sociology, Environmental Sociology, and Social Inequality