Menu Tutup

Ucca Arawindha: Eksklusi Sosial itu Masalah Bersama

Ucca Arawindha memberikan pantikan diskusi mengenai gerakan perempuan difabel di Yogyakarta pada Rabu, 5 September 2018, di Rumah Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya.

Kota Malang—Sebagai agenda bulanan, diskusi kali ini kembali diselenggarakan setelah mengalami jeda yang cukup panjang. Diselenggarakan di Lantai 1 Rumah Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya pada Rabu, 5 September 2018, PSLD UB mengundang Ucca Arawindha, dosen Jurusan Sosiologi FISIP UB, sebagai pemateri.

Sesuai hasil penelitian yang Ucca lakukan Bersama koleganya di Jurusan Sosiologi, diskusi ini berjudul “Gerakan Perempuan Difabel di Yogyakarta”. Dengan dipandu oleh Andi Zulfajrin dan Saphira Kusbandiah, ia menyampaikan hasil penelitiannya selama satu jam disertai sesi tanya jawab yang cukup interaktif dengan peserta yang berjumlah kurang lebih 30 orang.

Dalam temuan-temuannya, Ucca menjelaskan bahwa peranan disabled people organization (DPO) dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang memiliki perhatian terhadap penyandang disabilitas sangat signifikan dalam mendorong gerakan perempuan di Yogyakarta.

“Kami melihat bahwa dengan dukungan dan dorongan DPO dan LSM, perempuan difabel di Yogyakarta sangat banyak mendapatkan manfaat untuk mengembangkan diri dan menuju kemandirian,“ tegas Ucca dalam pemaparannya.

Ucca juga mengungkapkan bahwa keragaman strategi dan organisasi yang turut menyuarakan isu ini menjadi kunci dari perkembangan gerakan perempuan difabel. Ia menyebutkan beberapa organisasi masyarakat sipil yang turut memiliki program tertuju pada perempuan penyandang disabilitas, baik itu DPO atau LSM yang menjadikan isu tersebut sebagai salah satu agenda mereka. Baginya, peramaian suara ini baik di media sosial atau kampanye lapangan membuat perempuan penyandang disabilitas merasa terwadahi.

Gerakan Sosial Baru

Ucca melakukan penelitian pada 2017 lalu dengan fokus pada salah satu organisasi masyarakat sipil di Yogyakarta sebagai subjek amatan. Melalui penelitian ini, ia mendapatkan tinjauan dan kesimpulan bahwa dinamika gerakan perempuan di Yogyakarta tidak bisa dilepaskan dari strategi yang dilakukan oleh DPO dan LSM yang amat efektif dalam memframing isu disabilitas.

“Secara kategori atau jenis, gerakan perempuan difabel di Yogyakarta merupakan gerakan sosial baru yang tidak lagi fokus pada aspek ekonomi saja. Ia menyentuh isu lain seperti stigma, stereotip, dan eksklusi sosial,” ungkat Ucca.

Sisi lain yang ia temukan dan sangat signifikan dalam gerakan ini menurutnya adalah framing bahwa eksklusi sosial merupakan masalah bersama, bukan hanya masalah bagi difabel saja. Dengan framing ini, dukungan banyak elemen dan sektor dapat terakumulasi dan menemukan manfaat yang tak terduga.

Di sesi akhir diskusi, Ucca menekankan pada peserta diskusi yang hadir bahwa eksklusi sosial seperti yang dialami penyandang disabilitas secara umum dapat diangkat menjadi isu bersama yang tidak hanya diadvokasi oleh difabel, tapi juga individu lain seperti akademisi yang memiliki perhatian pada aspek yang beragama seperti hukum, ekonomi, pertanian, kedokteran, dan lainnya.

Page Reader Press Enter to Read Page Content Out Loud Press Enter to Pause or Restart Reading Page Content Out Loud Press Enter to Stop Reading Page Content Out Loud Screen Reader Support