Alies Poetri Lintangsari berfoto bersama peserta IDIS 2020

PSLD UB bagi Pengalaman Mengenai Jalur Masuk Khusus Penyandang Disabilitas di Tokyo

Informasi

Tokyo, Jepang—Pada 25-26 Januari 2020, Koordinator Bidang Layanan PSLD UB Alies Poetri Lintangsari, M.Li. mempresentasikan paper di 1st International Disability Inclusion Symposium yang diselenggarakan di Tokyo, Jepang, oleh The University of Tokyo. Ia menyampaikan hasil penelitian berjudul “Relevance of Affirmative College Admissions on College Participation of Students with Disability” dalam panel “Disability Standards for Services for Students with Disabilities in Higher Education”.

Simposium ini merupakan yang pertama dari rencana panjang IDIS The University of Tokyo. Diinisiasi oleh Research Center for Advanced Science and Technology, UT bekerja sama dengan Platform of Higher Education and Disability, Center on Disability Studies Universitas Hawaii, dan Higher Education Accessibility Platform Universitas Kyoto. IDIS bertujuan untuk berbagi pengetahuan dan pandangan tentang inklusi terhadap penyandang disabilitas di negara-negara ASEAN dan Wilayah Pasifik.

Layanan Jalur Masuk Kampus

Secara kebetulan, simposium IDIS yang pertama ini bertema tentang pendidikan tinggi dan karir penyandang disabilitas. Secara tematik, PSLD UB dan Universitas Brawijaya sendiri merupakan pioner pendidikan inklusif di perguruan tinggi, terutama melalui SMPD (Seleksi Mandiri Penyandang Disabilitas) yang telah dibuka sejak 2012. Sebelumnya, SMPD dikenal dengan SPKPD (Seleksi Program Khusus Penyandang Disabilitas).

Dalam penelitiannya, Alies Poetri Lintangsari berbagi pengalaman dan pengetahuan mengenai proses penerimaan dan jalur masuk penyandang disabilitas tersebut. “Sifatnya memang affirmative action, karena dalam penelusuran kami, pembedaan jalur masuk ini merupakan bentuk dari penyesuaian seleksi,” jelas Lintang.

Ia juga menjelaskan bahwa proses afirmasi ini perlu dilakukan dalam rangka memberikan layanan dan konsekuensi dari penerimaan penyandang disabilitas. “Secara pengetahuan, dalam pengalaman kami selama 8 tahun ini, proses seleksi seringkali tidak inklusif dan cenderung diskriminatif pada difabel. Untuk itu, sebagaimana akomodasi alat tes, lokasi tes, dan lainnya perlu disesuaikan,” lanjut perempuan yang juga dosen di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UB ini.

Selain diskusi di masing-masing panel, Lintang juga bercerita bahwa ia mendapatkan banyak jejaring dengan kampus lain. Ada pula pengetahuan-pengetahuan dari kampus negara lain yang patut diadaptasi untuk terus membuka peluang bagi penyandang disabilitas mendapatkan pendidikan tinggi.

Avatar
Mahalli
Studying Economic Sociology, Environmental Sociology, and Social Inequality