Wikan: Training di Bangkok Membekali Saya Menjalankan Organisasi Difabel

Wikan, begitulah mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya ini dikenal. Pada 10-15 Desember 2017 lalu, ia berkesempatan menghadiri World Blind Union-Asia Pacific (WBU-AP) Leadership Training di Bangkok, Thailand.

Juli 2018 mendatang, ia kembali berkesempatan menghadiri forum internasional di Malaysia selama dua minggu. Menurutnya, kegiatan tersebut berkenaan dengan aksesibilitas alat-alat digital seperti komputer dan website.

Ia mewakili Persatuan Tunanetra Indonesia dalam kegiatan yang berlangsung selama lima hari di ibukota Negeri Gajah Putih tersebut. Dalam kesempatan bercerita mengenai pengalamannya, ia sangat terkesan dengan kegiatan tersebut.

“Itu pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Kegiatan tersebut memberikan penjelasan yang lebih luas mengenai betapa berharganya berjejaring. Di sana saya mendapat penjelasan yang lebih luas mengenai Sustainable Development Goals (SDGs), Convention on the Rights of Person with Disabilities (CRPD), dan Marrakesh Treaty,” ucapnya dengan wajah berbunga-bunga.

Menurutnya, sebenarnya tema-tema tersebut telah ia akrabi sejak lama. Namun untuk hal-hal yang amat krusial, terutama mengenai posisi tiga instrument tersebut, ia baru mendengar ketika kegiatan tersebut berlangsung.

Sebagai mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Program Studi Hubungan Internasional, secara tidak langsung lelaki bernama lengkap I Made Wikan Dana ini mengaitkannya dengan fungsi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam memahami keterlibatan organisasi tersebut memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas.

Melalui pemahamannya terhadap tiga instrumen tersebut pula, Wikan memahami bagaimana organisasi penyandang disabilitas perlu mengambil tempat dan bagaimana menjalankan organisasi tersebut. Secara praktis, ia memang cukup aktif dalam beberapa organisasi, salah satunya adalah FORMAPI (Forum Mahasiswa Peduli Inklusi) dan Pertuni.

“Saya mendapatkan pemahaman bagaimana caranya menjalankan organisasi,” ucapnya singkat mengenai pengalaman di Bangkok tersebut. Menurut mahasiswa asal Bali ini, bagian tersebut sangat penting mengingat pembumian nilai-nilai inklusif tidak dapat hanya beredar di tataran organisasi internasional saja, tapi juga di dalam negeri, di Indonesia.

Menurut Wikan, berkaitan dengan organisasi, ia mendapatkan pemahaman berupa elemen dasar organisasi hingga manajemen keuangan dan mekanisme fundraising. Strategi gerakan tunanetra juga termasuk di dalamnya. Dengan demikian, ia dapat memahami secara utuh mulai dari pengaturan dan penataan organisasi hingga nilai-nilai yang melatari gerakan tersebut.

Tidak Hanya di Ruangan
Selain materi di ruangan, Wikan bercerita mengenai pengalamannya mengunjungi Thailand School for the Blind dan Thailand Asociation for the Blind. “Di situ saya manfaatkan seoptimal mungkin untuk menggali pengetahuan lebih banyak mengenai struktur dan tindakan yang dilakukan Thailand dalam mengelola sebuah organisasi disabilitas tunanetra,” katanya sebagaimana ia ceritakan pula di website Pertuni.

Apa yang ia dapatkan melalui materi di dalam ruangan tersambung dengan praktik lapang dalam kunjungan tersebut. Melalui pengalaman berkunjung tersebut, ia mendapatkan jawaban yang lebih kompatibel dengan arah gerak organisasi tunanetra di Indonesia.

Dengan pengalaman itu pula, ia mendapatkan banyak teman dari berbagai negara di Asia Pasifik. Jejaring itu memotivasinya dalam menjaga dan menjalankan organisasi sebagaimana pengetahuan yang ia dapatkan dari forum tersebut. Ia berharap, pada kesempatan Juli 2018 mendatang di Malaysia, pengetahuan tersebut bertambah mumpuni untuk diaplikasikan. [mhn]