Rumah Siput Gugah Mahasiswa Difabel Berkarya dan Berwirausaha

Kota Malang–PSLD UB, bekerja sama dengan Laboratorium Ilmu Humaniora, AIDRAN, dan Sedap Films, mengadakan bedah film “Rumah Siput” di Movie Room Lt. 7 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya, pada Rabu, 23 Oktober 2019. Kegiatan diawali dengan menonton bersama film dokumenter tersebut dan dilanjutkan dengan tukar pikiran mengenai isi film.

 

Film Rumah Siput merupakan film dokumenter tentang yang mengangkat tema tentang disabilitas tuli. Film ini adalah bagian dari proyek bertajuk “Ini Cerita Kita” yang digagas Sedap Films, bersama komunitas anak muda Pamflet dan komunitas anak muda tuli Gerkatin Kepemudaan. Ia yang merupakan inisiatif kolaborasi untuk meningkatkan kapasitas anak muda disabilitas, khususnya tuli, di dunia kerja. Sebelumnya, proyek ini memproduksi film pendek fiksi berjudul Toko Musik.

 

Untuk menguatkan sisi nilai yang dibawa dalam film tersebut, PSLD juga mengundang mahasiswa difabel UB yang memiliki pengalaman wirausaha. Fathzefa Samodra dan Giska Fuzna Aghnia, keduanya merupakan mahasiswa Tuli dan low vision yang selama ini merintis usaha makanan. Keduanya bercerita mengenai pengalaman mereka secara langsung di hadapan hadirin bedah film.

 

Penyandang Disabilitas di Dunia Kerja

Dalam UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, disebutkan bahwa Pemerintah, Pemerintah Daerah, BUMN, dan BUMD wajib mempekerjakan penyandang disabilitas 2 % dari total pegawai, sedangkan swasta wajib mempekerjakan penyandang disabilitas 1 % dari total pegawai. Tak hanya itu, terdapat insentif bagi perusahaan yang mempekerjakan penyandang disabilitas. Meskipun undang-undang telah mengatur kuota ketersediaan penempatan kerja bagi penyandang disabilitas, pada kenyataannya masih banyak penyandang disabilitas yang kesulitan mendapatkan pekerjaan.

 

Inklusi sosial bagi penyandang disabilitas di bidang pekerjaan terganggu oleh banyak hal yang selama ini masih bergentayangan dalam masyarakat kita. Sebagaimana yang tergambar di film, penyandang disabilitas Tuli kesulitan mendapatkan pekerjaan. Namun di tengah keadaan tersebut, itulah yang akhirnya menuntut penyandang disabilitas untuk membuka lapangan pekerjaan sendiri.

 

Rumah Siput menarasikan sisi yang amat dekat dengan penyandang disabilitas. Putri, penyandang disabilitas Tuli, melamar di banyak perusahaan untuk bekerja. Namun ia ditolak. Akhirnya, bersama dua sahabatnya, dia mendirikan kedai kopi yang khusus mempekerjakan anak-anak muda tuli. Kedai kopi ini kemudian menjadi ruang baru bagi kaum tuli untuk bertemu dan berjejaring dengan sesama tuli maupun dengar.

 

Dalam pemaparannya setelah pemutaran video, Fathzefa menjelaskan bahwa berwirausaha merupakan tantangan tersendiri. Zefa, begitu ia dikenal, berisyarat dan diterjemahkan oleh Yanda Sinaga, “Dari kecil memang aku sudah terbiasa di rumah, jualan. Banyak sih jenisnya. Terutama makanan.” Menurut Zefa juga, modal menjadi penting untuk memulai.

 

Pernyataan Zeda diamini oleh Giska. Mahasiswi low vision di Fakultas Ilmu Administrasi UB ini sejak semester awal telah memulai usahanya berjualan kue di beberapa fakultas. Belakangan, ia memulai usaha di luar kampus. “Kita harus paham di mana pasar yang pas. Ini penting karena hitungannya adalah pemasukan dan pengeluaran yang seimbang,” ungkap Giska yang banyak menyinggung soal manajemen dan pengelolaan keuangan.