Perwakilan PSLD UB Hadiri Zero Project Conference di Austria

Berita

Wina, Austria–Sejak diumumkan pada awal Desember 2019 lalu bahwa PSLD UB mendapatkan Zero Project Award 2020, perwakilan PSLD telah mempersiapkan keberangkatan pada kegiatan tersebut. PSLD UB mendapatkan Zero Project Award 2020 atas prestasi di bidang pendidikan inklusif. Sejak 2012 lalu, Universitas Brawijaya mendirikan Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) dan sekaligus membuka jalur masuk mahasiswa baru penyandang disabilitas yang disebut SPKPD (Seleksi Penerimaan Khusus Penyandang Disabilitas). Komitmen tersebut merupakan amanat undang-undang dan kesadaran untuk memberikan pendidikan pada semua orang.

Setelah 8 tahun berlangsung dan diapresiasi banyak kalangan, Zero Project sebagai organisasi yang berkedudukan di Wina, Austria, turut mengapresiasi usaha ini. Menurut Zero Project dalam websitenya, tahun ini mereka memang sedang menyoroti isu pendidikan pada penyandang disabilitas. Zero Project hendak menjembatani pengembangan ide dan proyeksi masa depan pendidikan inklusif dengan cara memberi penghargaan dan mempertemukan perwakilan PSLD UB dengan berbagai organisasi dan instansi yang memiliki semangat dan cita yang sama dalam inklusi sosial.

Perwakilan PSLD UB, yaitu Wahyu Widodo, Alies Poetri Lintangsari, Ulfah Fatmala Rizky, dan Wakil Rektor 4 Bidang Kerjasama UB Prof. Dr. Ir. Moch. Sasmito Djati, MS. menghadiri Zero Project Conference 2020 untuk mempresentasikan SMPD (Seleksi Mandiri Penyandang Disabilitas), nama lain dari SPKPD setelah tahun 2019. Empat wakil tersebut tiba di Wina pada 19 Februari 2020 untuk mengikuti rangkaian konferensi dan penganugerahan hingga 23 Februari 2020.

Selain menerima penghargaan, Prof. Dr. Ir. Moch. Sasmito Djati MS. juga mempresentasikan SMPD dalam Panel Education di hari pertama rangkaian kegiatan. “Program penerimaan ini sejak tahun 2012. Dalam konteks Indonesia ini termasuk awal, dan UB merupakan pionir dalam pendidikan inklusif di perguruan tinggi,” jelasnya.

Selain itu, UB dengan PSLD-nya juga menjadi kampus rujukan dalam implementasi pendidikan dan layanan inklusif untuk penyandang disabilitas di perguruan tinggi di Indonesia. “Kami menerima banyak kunjungan kampus-kampus di Indonesia yang juga ingin mendirikan pusat layanan untuk penyandang disabilitas,” lanjut Pak Sas, panggilan akrabnya.

Avatar
Mahalli
Studying Economic Sociology, Environmental Sociology, and Social Inequality