Disabilitas dan Keterancaman Lingkungan dalam Pertunjukan Ludruk

Oleh: Wahyu Widodo*

Lemah Sangar (LS) adalah judul pertunjukan ludruk garapan Sutak Wardhiono yang dipentaskan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya pada 15 September dan  di Gedung Kesenian Cak Durasim Surabaya pada 27 September 2017. LS diambil dari tembang Kidung Rumeksa ing Wengi atau Kidung Mantrawedha bait II larik 8 yang dilagukan dengan metrum dhandhanggula.

Lemah sangar memiliki arti ‘tanah yang membawa kesialan’ atau unlucky land (Arps 1996). Pertunjukkan yang berdurasi 1 jam 42 menit tersebut mengisahkan secara dramatis warga Desa Sumber Puthuk yang tengah mempertahankan sumber mata air dan punden Mbah Bibit, sebagai perintis dan sesepuh desa tersebut, dari gempuran pembangunan (developmentalism).

Sejatinya, pertunjukan ludruk LS adalah wujud keprihatinan Sutak Wardhiono atas maraknya perusakan lingkungan dan pengalihan fungsi lahan dari persawahan menjadi perumahan yang terjadi secara masif di Malang dan sekitarnya. Pada tahun 2007  di Batu-data yang dihimpun Walhi-tercatat ada sekitar 521 titik mata air, tetapi sekarang tinggal 57 titik mata air.

Selain itu, di Malang tengah terjadi pengalihan fungsi lahan dari sawah menjadi perumahan secara masif. Keresahan terhadap keterancaman lingkungan tidak hanya terjadi di Malang, tetapi juga terjadi juga di Kendeng, Tumpang Pitu-Banyuwangi, Kulon Progo, dan daerah lain di Indonesia. Melalui pertunjukan LS, ini mengingatkan pada khalayak atas dua topik utama, yakni potret disabilitas dan keterancaman lingkungan.

Latar

Pertunjukkan LS dengan latar yang tidak bergerak; latar pertunjukan yang tetap. Di sana dialog terjadi dengan intens: jenaka, kritis, dan reflektif. Latar panggung yang sederhana itu menggambarkan sumber mata air yang diapit oleh gundukan tanah, pepohonan daun jati yang meranggas dan berguguran menghiasi panggung. Di sana semua adegan dibangun hingga tertata menjadi jalinan yang utuh. Latar yang tetap ini membersitkan maksud bahwa sumber mata air di Desa Puthuk adalah prasasti-segala-rasa; ia tempat melekatkan memori sebagaimana dibangun oleh gadis desa (Sulikah) dan pemuda desa (Darman) yang memadu kasih di sumber mata air itu. Ia juga tempat bersukacita anak-anak yang bermain layang-layang dan petak umpet.

Sumber mata air itu tempat semua generasi berkumpul dan mengikatkan dirinya dalam ikatan primordial: ikatan tanah dan airnya. Sekaligus, ia menggugah kesadaran manusia bahwa anasir wadag-badannya tersusun atas tanah dan air. Atas dasar kesadaran primordial tersebut, warga Sumber Puthuk menggelar ritual Rabu Wagean di sekitar sumber mata air dengan memberi sesaji berupa makanan, aneka bunga, pembakaran setanggi sebagai wujud rasa syukur bahwa desa itu dialiri air yang tak henti-hentinya mengalir dan rimbunya pohon yang mengakar pada tanah.

Potret Disabilitas

Punden dan sendang itu dijaga oleh tokoh tetua desa bernama Wak Manisa. Ia adalah sosok tunanetra dengan rempesan carang ‘ranting bambu’ sebagai tongkat-pembantu tatkala ia berjalan. Wak Manisa adalah potret disabilitas-netra yang kerap dijumpai di masyarakat yang warganya masih rendah terhadap Disability awareness—kesadaran bagaimana warga memperlakukan difabel dengan layak dan patut.  Hal itu tercermin dengan terang dalam satu adegan bagaimana Sasi Nuraini, mahasiswa Seni Tari dan juga aktivis sosial media, memberikan tongkat kepada Wak Manisa dengan menaruh di depanya tanpa memberi tahu bahwa tongkat sedang tepat berada di depan Wak Manisa.

Tercermin juga dalam adegan pembicaraan runcing (debat) antara Wak Manisa dan Sukani. Keduanya memalingkan muka. Artinya tidak menganggap kehadiran Wak Manisa karena ke-tan-awas-annya. Pertunjukkan itu memang pantulan nyata dari apa yang terjadi di kampung: bagaimana warga memperlakukan difabel. Pertunjukan ini adalah contoh yang memadai bagaimana disabilitas dipotret melalui ludruk. Ia sekaligus mewartakan bagaimana penyandang disabilitas diperlakukan di tengah-tengah masyarakat. Di sisi lain, pertunjukan ini menempatkan tunanetra sebagai tokoh sentral; sosok yang menggerakkan alur.

Keterancaman Lingkungan

Meskipun Wak Manisa tidak memiliki penglihatan, ia memiliki nurani yang tajam. Sikap kukuh dan awas apa yang akan terjadi (waskita) mewujud dalam sikap penolakan Wak Manisa tatkala Sukani (Ketua LMD) membujuk agar Wak Manisa melepas punden itu untuk dibangun perumahan warga kota. Wak Manisa dengan tegas menolak. Semua penduduk sudah menandatangani surat peralihan lahan itu, kecuali Wak Manisa. Di sini adegan yang menyayat-nyayat nurani itu terjadi. Dengan didukung kekuatan korporasi– Dibyo (pimpinan proyek) dan Mamy Katyy (Orang CV)–Sukani mendatangi dan meneror warga yang menolak peralihan fungsi lahan tersebut, salah satunya adalah Sasi Nurani.

Sasi melalui tulisan-tulisan di facebook menghimpun warga untuk menolak pembangunan perumahan itu. Akan tetapi, semua perlawanan itu tumbang dan kandas. Yang ditunjukkan dengan adegan dibangunya punden tersebut oleh orang-orang proyek, yang berlalu-lalang mengukur luas lahan dan menancapkan tiang proyek sebagai tanda bahwa pembangunan telah dimulai. Adegan itu ditutup dengan Sukani yang membusungkan dada dan berteriak suka cita dengan selembar sertifikat tanah di tangannya. Di sisi panggung yang lain, tiga anak kecil berpamitan dengan pilu dan bercucuran air mata sambil menyuguhkan bunga terakhir di punden Mbah Bibit.

Salah satu anak itu mengucapkan: Mbah Bibit, aku maringono ora iso delok gunung; ora iso delok sawah; ora iso delok kali, Mbah. Tapi, aku ora bakal lali karo sampeyan, Mbah (Mbah Bibit, aku setelah ini tidak bisa lagi melihat menjulangnya gunung, bentangan persawahan, gemericik sungai, tapi aku tidak akan melupakan jasa baikmu, Mbah). Kemudian, anak-anak itu menyanyikan bait tembang dengan isak tangis: Gunung jugrug, sumbere asat ‘gunung runtuh, sumber mata air kering’/Padas gempal, kaline mati ‘batu padas ringkih-pecah, sungai kering’/Eman-eman ‘sungguh sayang’/godhong jati gogrog sek ijo/‘daun pohon jati rontok tatkala masih berwarna hijau’. Suasana haru dan sedih turut disumbangkan melalui titi nada gamelan bertalu-talu di bawah Pengrawit Cahyo Yudha Pradana, yang masih duduk dibangku kelas 3 SMP. Sontak pertunjukan itu mengundang haru-tangis. Lantas apakah makna yang dipetik setelah pertunjukan itu usai?

Ludruk, sejatinya, adalah teater realis yang memiliki referential effect atau referential meaning; rujukan yang mengacu pada dunia nyata yang sebenarnya (Andalas 2001). Dalam sesi diskusi yang digelar seusai pertunjukan di Fakultas Ilmu Budaya, Zulham, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya, mengajukan pertanyaan “apakah yang akan kami perbuat setelah ini, di desa kami banyak orang yang kayak Sukani tadi, terus apa yang akan kami lakukan?” Artinya apa yang ditampilkan dalam lakon tersebut memiliki acuan yang sangat dekat dalam kehidupan sehari-hari penonton.

Orang-orang yang ditampilkan dalam pertunjukan itu adalah cerminan dari karib, tetangga, dan saudara mereka . Maka, pertunjukan ludruk adalah pementasan tentang diri mereka sendiri. Fungsi ludruk di masa sekarang lebih pada ruang kontemplasi atas apa yang terjadi, tetapi tidak menyuguhkan tuntunan dan rujukan langkah aksi. Yang terakhir ini sebagaimana fungsi ludruk sebelum tahun 1965. Fungsi refleksi-kontemplasi tersebut dikukuhkan oleh jawaban Sutak Wardhiono, selaku wakil dari Komunitas Kendo Kenceng dan Paguyuban Among Roso, tatkala menjawab pertanyaan di atas, “semua diserahkan pada interpretasi Saudara atas pertunjukan tadi.” Adakah lakon ludruk yang mengemban fungsi kontemplasi sekaligus ia tuntunan langkah aksi?

*Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya dan Peneliti di Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) Universitas Brawijaya Malang.

Tulisan ini sebelumnya diterbitkan oleh Times Indonesia. Diterbitkan kembali untuk tujuan pendidikan.